Rabu, 01 Februari 2012

DETEKSI DINI KALA 1 2 3 4


1.    Kala I
a.    Riwayat bedah sesar.
b.    Perdarahan pervaginam selain dari lendir bercampur darah/bloodshow.
c.    Persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu).
d.    Ketuban pecah disertai dengan mekonium yang kental.
e.    Ketuban pecah dan air ketuban bercampur dengan sedikit meconium disertai dengan tanda-tanda gawat janin
f.     Ketuban pecah (>24 jam) atau ketuban pecah pada kehamilan kurang dari 37 minggu.
g.    Tanda-tanda atau gejala-gejala infeksi:
1)    Temperature > 380C
2)    Menggigil
3)    Nyeri abdomen
4)    Cairan ketuban berbau
h.    Tekanan darah lebih dari 160/110 dan terdapat protein dalam urin (preeklamsi berat).
i.      Tinggi fundus 40 cm atau lebih. (Makrosomia,polihidramnion, gemeli)
j.      DJJ kurang  dari 100 atau lebih dari 180 kali/menit pada dua kali   penilaian dengan jarak 5 menit pada (gawat janin).
k.    Primipara dalam fase aktif persalinan dengan palpasi kepala janin masih 5/5.
l.      Presentasi bukan belakang kepala.
m.   Presentasi majemuk.
n.    Tali pusat menumbung.
o.    Tanda dan gejala syok
1)    Nadi cepat, lemah (lebih dari 110kali/menit)
2)    Tekanan darahnya rendah(sistolik kurang dari 90 mm Hg
3)    Pucat
4)    Berkeringat atau kulit lembab,dingin.
5)    Napas cepat (lebih dari 30x/menit)
6)    Cemas, bingung atau tidak sadar 
7)    Produksi urin sedikit (kurang dari30 ml/jam
p.    Tanda dan gejala persalinan dengan fase laten berkepanjangan :
1)    Pembukaan servik kurang dari 4 cm setelah 8 jam
2)    Kontraksi teratur (lebih dari 2 kali dalam 10 menit)
q.    Tanda atau gejala belum inpartu
1)    Frekuensi kontraksi kurang dari 2 kali dalam 10 menit dan lamanya ≤ 20 detik
2)    Tidak ada perubahan pada serviks dalam waktu 1-2 jam
r.     Tanda atau gejala Partus lama :
1)    Pembukaan servik mengarah kesebelah kanan garis waspada (partograf)
2)    Pembukaan servik kurang dari 1 cm per jam
3)    Frekuensi kontraksi kurang dari 2 kali dalam 10 menit, dan lamanya ≤ 40 detik.

2.    Kala II
a.    Fase Aktif Memanjang (Prologed expulsive phase)
1)    Istilah fase aktif memanjang mengacu pada kemajuan pembukaan yang tidak adekuat setelah didirikan diagnosa kala I fase aktif, dengan didasari atas :
a)    Pembukaan kurang dari 1 cm per jam selama sekurang-kurangnya 2 jam setelah kemajuan persalinan
b)    Kurang dari 1,2 cm per jam pada primigravida dan kurang dari 1,5 cm pada multipara
c)     Lebih dari 12 jam sejak pembukaan 4 cm sampai pembukaan lengkap (rata-rata 0,5 cm perjam)
2)    Karakteristik Fase Aktif Memanjang :
a)    Kontraksi melemah sehingga menjadi kurang kuat, lebih singkat dan atau lebih jarang
b)    Kualitas kontraksi sama seperti semula tidak mengalami kemajuan
c)    Pada pemeriksaan vaginal, serviks tidak mengalami perubahan
3)    Penyebab Fase Aktif Memanjang :
a)    Malposisi (presentasi selain belakang kepala)
b)    Makrosomia (bayi besar) atau disproporsi kepala-panggul (CPD)
c)    Intensitas kontraksi yang tidak adekuat
d)    Serviks yang menetap
e)    Kelainan fisik ibu (mis:pinggang pendek)
f)     Kombinasi penyebab atau penyebab yang tidak diketahui
b.    Distorsia Bahu
Diagnosis ditegakkan dengan
1)    Kepala janin dapat dilahirkan tetapi tetap berada di dekat vulva
2)    Dagu tertarik dan menekan perineum
3)    Tarikan oada kepala gagal melahirkan bahu yang terperangkap di belakan simpisis pubis.
c.    Kelainan Tenaga Atau His           
1)    His Hipotonik
a)    Kelainan dalam hal bahwa kontraksi uterus lebih aman, singkat dan jarang daripada biasa, keadaan ini dinamakan inersia uteri primer atau hypotonic uterine contraction.
b)    Kalau timbul setelah berlangsungnya his kuat untuk waktu yang lama hal ini dinamakan dengan inersia uteri sekunder.
c)    Diagnosis inersia uteri paling sulit dalam fase laten. Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri tidak cukup untuk membuat diagnosis bahwa persalinan sudah dimulai.
d)    Untuk sampai pada kesimpulan ini diperlukan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi terjadi perubahan pada servik yaitu pendataran atau pembukaan servik
2)    His Hipertonik (his terlampau kuat)
a)    Walaupun pada golongan koordinate hipertonik uterin contraction bukan merupakan penyebab distosia namun bisa juga merupakan kelaianan his.
b)    His yang terlalu kuat atau terlalu efisien menyebabkan persalinan selesai dalam waktu yang sangat singkat (partus presipitatus): sifat his normal, tonus otot di luar his juga biasa, kelainannya terletak pada kekuatan his.
c)    Bahaya partus presipitatus bagi ibu ialah terjadinya perlukaan luas pada jalan lahir, khususnya servik uteri, vagina dan perineum.
d)    Sedangkan pada bayi dapat mengalami perdarahan dalam tengkorak karena bagian tersebut mengalami tekanan kuat dalam waktu sangat singkat.
3)    His yang tidak terkoordinasi
a)    His disini sifatnya berubah-ubah tonus otot uterus meningkat juga di luar his, dan kontraksinya tidak berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronisasi antara kontraksi bagian-bagiannya.
b)    Tidak adanya koordinasi antara kontraksi bagian atas, tengah dan bawah menyebabkan his tidak efisien dan mengadakan pembukaan.
c)    Disamping itu tonus otot uterus yang menaik menyebabkan rasa nyeri yang lebih keras dan lama bagi ibu dan dapat pula menyebabkan hipoksia pada janin.
d)    His ini disebut sebagai incoordinate hipertonik uterin contraction.
3.    Kala III
NO
KALA
GEJALA DAN TANDA
PENYULIT
KEMUNGKINAN DIAGNOSIS
1
III
Plasenta belum lahir setelah 30 menit
Perdarahan segera (P3)
Uterus berkontraksi dan keras
Tali pusat putus akibat traksi berlebihan
Inversio uteri akibat tarikan
Perdarahan lanjutan
Retensio plasenta
2
III
Plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak lengkap
Perdarahan segera (P3)
Uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang
Tertinggalnya sebagian plasenta
3
III/IV
Uterus tidak teraba
Lumen vagina terisi masa
Tampak tali pusat (bila plasenta belum lahir)
Syok neurogenik
Pucat dan limbung
Inversio uteri
4
III/IV
Perdarahan segera (intra abdomen/vagina)
Nyeri perut berat
Syok
Nyeri tekan
Nadi cepat
Ruptura uteri

4.    Kala IV
NO
GEJALA DAN TANDA
PENYULIT
KEMUNGKINAN DIAGNOSIS
1
Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir (P3)
Uterus berkontraksi dan keras
Plasenta lengkap
Pucat
Lemah
Menggigil
Robekan jalan lahir
2
Sub-involusio uterus
Nyeri tekan perut bawah dan pada uterus
Perdarahan (sekunder  atau P2S)
Lokhia mucopurulent dan berbau (bila disertai infeksi)
Anemia
Demam

Endometritis atau sisa fragmen plasenta (terinfeksi atau tidak)
3
Uterus tidak berkontraksi dan lembek.
Perdarahan segera setelah bayi lahir (Perdarahan Pasca Persalinan Primer)
Syok
Bekuan darah pada serviks atau posisi telentang akan menghambat aliran darah keluar
Atonia uteri



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar